Arsip Taushiyah Pondok Pesantren 153 Al-Firdaus

Kumpulan Catatan Nasihat dan Pembinaan Akhlak

Taushiyah #02

Pentingnya Doa Mengiringi Ikhtiar Menuntut Ilmu & Akhlak

Disampaikan oleh: Ust. Jajang

Innalhamdalillah, nahmaduhu wanastaiinuhu wanastaghfiruh. Wa na'udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyiati a'malina. Mayyahdillahu fala mudhillalah, wa mayyudhlil fala hadiyalah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhul ladzi la nabiya ba'dah, amma ba'du.

Anak-anakku sekalian yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Alhamdulillah, Allah masih berkenan memberi kita kesehatan dan juga kesempatan pada kali ini. Mudah-mudahan ini menjadi wasilah bagi kita turunnya keberkahan, kasih sayang, dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala atas segala dosa-dosa yang telah kita lakukan.

Pada kesempatan yang singkat ini, Ustaz ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa keberadaan kita di pondok pesantren ini paling tidak memiliki dua harapan utama yang ingin dicapai. Pertama, bertambahnya ilmu pengetahuan. Kedua, kuatnya akhlakul karimah pada diri kita. Kedua hal ini memerlukan ikhtiar yang kuat serta latihan yang disiplin.

Namun poinnya adalah, di tengah-tengah ikhtiar mewujudkan pemahaman agama (khususnya terkait tafaqquh fiddin) dan akhlakul karimah tersebut, satu hal yang tidak boleh kita abaikan adalah doa. Baik ilmu, pemahaman, maupun akhlak yang wujud pada diri kita, semua itu tidak terlepas dari takdir dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ikhtiar kita tidak akan bernilai sedikit pun tanpa kehendak-Nya.

Orang yang tidak mau berdoa kepada Allah adalah orang yang sombong. Ciri kesombongan seorang hamba adalah tidak mau berdoa. Padahal, Allah telah memberikan anjuran dan perintah kepada kita selaku hamba-Nya:

"Ud'uunii astajib lakum."
(Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu).

Sekuat apa pun kalian menghafal, muraja'ah, qira'ah, muthala'ah, membaca, menulis, atau berdiskusi, jika Allah tidak mentakdirkan, itu semua tidak akan pernah terjadi. Jangan lupa memohon kepada Allah yang merupakan Sang Pengurus:

"Robbizidnii 'ilman warzuqnii fahman."
(Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu, dan rizkikanlah kepadaku berupa pemahaman).

Selain ilmu, kita juga harus senantiasa berdoa untuk wujudnya akhlakul karimah. Sangat mudah bagi Allah untuk memberikan hidayah, namun juga sangat gampang bagi-Nya untuk menyesatkan seseorang. Banyak cerita tentang orang yang sudah lama berada dalam ketaatan tiba-tiba tergelincir, itu karena Allah telah menakdirkannya demikian. Oleh karena itu, kita harus terus bergantung dan bertawakal kepada Allah agar tetap istiqomah dan dijauhkan dari kemaksiatan.

Rasulullah ﷺ mencontohkan beberapa lafaz doa terkait hal tersebut, di antaranya:

"Allahumma inni a'udzubika min munkarotil akhlaq."
(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari akhlak yang munkar/buruk).

"Wahdinii liahsanil akhlaqi."
(Ya Allah, tunjukilah aku pada sebaik-baiknya akhlak).

"Allahumma kamaa hasanta kholqii, fahassin khuluqii."
(Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan rupaku, maka baguskanlah pula akhlakku).

Pintalah kepada Allah, jangan bosan-bosan. Selain mendoakan diri sendiri, pintalah juga wasilah doa dari orang tua kalian. Ingatkan mereka agar senantiasa mendoakan kemudahan bagi kalian dalam memahami ilmu dan berakhlak mulia, bukan hanya memikirkan sekadar pemenuhan kebutuhan duniawi saja.

Antara asatidz (guru) dan santri juga sama, mari kita saling mendoakan. Santri mendoakan gurunya, guru pun pasti akan mendoakan muridnya. Segala ikhtiar mengajar tidak akan ada artinya kalau Allah tidak mentakdirkan. Jika kita tidak berdoa, sekali lagi, kita sombong. Bagi Allah sangat mudah untuk menyesatkan kita meskipun kita berada dekat dengan sumber hidayah (Al-Qur'an, As-Sunnah, dan kitab-kitab).

Itu saja poinnya. Terima kasih atas segala perhatiannya. Syukron 'ala husni ihtimamikum. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.